Ketika Sora Kejang
Dua hari yang lalu, siang hari sekitar pukul dua siang, saya sedang membujuk Sora untuk makan siang. Karena ia masih menolak, saya biarkan ia menonton televisi karena yang sudah jatah dan supaya mood-nya membaik. Saya ingat, serial My Friends Tiger and Pooh di Playhouse Disney kesukaan Sora sedang tayang. Kami duduk bersebelahan, saya sedang membaca email di hp, sampai menyadari ia menyandar dengan posisi tidak wajar di lengan kiri saya.
Saya coba panggil, ia tidak merespon. Perlahan tangannya menjadi kaku, matanya menatap kosong dan mulai memutar melihat ke arah kanan atas. Perlahan kulitnya menggelap dan bibirnya membiru. Ia sedang demam, dan mendapat serangan kejang.
Hari itu, kamis siang, tanggal 29 Juli 2010, empat hari setelah ulang tahun Sora yang kedua. Tiga hari setelah kami mengantar nenek dan kakung ke bandara Changi setelah tiga hari mereka berkunjung. Dan sekitar empat puluh jam sejak ia mulai demam.
Saya belum membawanya ke dokter karena demamnya masih terhitung wajar, sekitar 37,9 C dan disertai batuk pilek. Sora pun masih terhitung ceria dan tidak terlalu rewel, hanya sedikit terganggu karena batuk dan hidungnya tersumbat. Lagipula kami juga masih punya persediaan parasetamol.
Namun pagi harinya, demamnya mulai meninggi, mencapai angka 39,2 di termometer ketiak yang kami gunakan. Saya merasa perlu menyiapkan ibuprofen untuk menurunkan demam tingginya. Jadilah, si Abah berangkat ke kantor lebih siang hari itu karena membeli obat penurun panas di dan minta rekomendasi apoteker lebih dahulu. Namun ibuprofen tidak langsung saya berikan, karena sebelumnya Sora sudah mendapat dosis panadol terlebih dahulu, jadi kami harus menunggu. Kami juga kemudian mengatur jadwal kunjungan dokter hari itu.
Pukul dua, Sora masih menolak makan siang, padahal sudah hampir waktunya diberi dosis ibuprofen. Suhu terakhir beberapa waktu sebelumnya terukur di 39,2 C. Tinggi, saya kembali membirinya kompres handuk basah, sambil menemaninya nonton televisi. Sampai kemudian adrenalin membanjiri tubuh saya yang bereaksi atas kejadian itu.
Tidak seperti artikel apapun yang pernah saya baca tentang Febrile Fits, Febrile Seizures, Step, Sawan, Kejang dan lain-lain. Kejadian siang itu benar-benar sulit. Saya seperti disedot ke lubang hitam, panik, takut, sedih, putus asa, segala perasaan buruk berasa menggantung di punggung saya.
SOP manapun dalam penanganan kejang karena demam anak menganjurkan hal pertama yang perlu dilakukan adalah untuk tidak panik. Tapi kenyataannya, berapa banyaknya pun saya membaca, membekali diri dengan informasi dan bertanya sana-sini tidak akan cukup rasanya untuk membuat saya tidak panik.
Saya lupa langkah selanjutnya adalah membiarkannya terbaring dengan aman, menjaga kepalanya supaya tidak terantuk dan memiringkan posisi untuk mencegahnya tersedak. Saya malah mendekapnya erat, berkelibatan pikiran-pikiran buruk.
Dan bahwa sebaiknya tidak memasukkan apapun ke dalam mulutnya karena dapat membuat anak tersedak juga tidak terlintas. Yang saya kemudian cari adalah kopi hitam yang dipesankan ibu mertua saya untuk dicolekkan ke lidah si anak yang kejang untuk membuatnya berhenti. Saya bahkan meletakkan jari telunjuk saya yang tidak terbungkus apapun untuk digigitnya, mencegah Sora menggigit lidahnya (yang kemudian saya ingat dalam satu artikel bahwa hal itu tidak perlu dan justru tidak baik, karena bisa merusak gigi si anak, belum lagi segala macam bakteri yang ada di jari dan benda apapun yang dimasukkan ke dalam mulut dan rasa sakit yang tidak perlu pada si jari telunjuk).
Namun nyatanya kopi hitam memang membuat kejangnya berhenti. Tubuhnya melemas, perlahan ia sadar dan saya berlari membawanya ke dokter di blok apartemen sebelah. Sora diberi 12,5 mg diclovenac sodium untuk menurunkan demamnya dengan segera. Dokter menenangkan dan bertanya macam-macam, kemudian menyimpulkan fits yang dialami Sora tidak berbahaya, dan tidak perlu dikhawatirkan. Namun saya sebaiknya bersiaga jika ia demam tinggi, karena ada kemungkinan ia bisa mendapat serangang kejang kembali mengingat ada sejarah keluarga yang juga pernah kejang karena demam ketika kanak-kanak.
Pelajaran lain tentang karakter demam Sora adalah seringkali pengukuran dengan termometer ketiak tidak akurat untuknya, jadilah saya menyiapkan termometer telinga yang juga membutuhkan waktu lebih sedikit sehingga ia tidak terganggu ketika diukur suhu badannya.
Saya ditemani beberapa tetangga yang berbaik hati membantu dan mendukung saat itu hingga cukup mengangkat sedikit rasa khawatir dan menghembuskan kelegaan ke dada saya.
Kelegaan yang saya sadari bukan berarti saya berhenti bersiaga, mencari informasi dan membekali diri juga menyadari esensi berbagi tentang pengalaman ini.