Mommy tak akan ajar huruf ke Sora
Maaf nak, tapi tidak. Tidak, karena materi itu ada di urutan yang sangat tidak signifikan dalam daftar prioritas yang sudah mommy susun untuk kamu. Belajar tentang huruf atau angka, atau hafalan kognitif lain dalam silabus pelajaran kita ada jauh di bawah urutan materi pelajaran tentang cinta kasih, mengenal Tuhan, bersikap baik, tentang berbagi, imajinasi dan khayalan, bahkan practical living skill sesederhana memakai atau melepas sepatu sendiri.
Seperti yang mommy sudah bilang sebelumnya, mommy tak akan mengajarkan huruf padamu. Tidak sampai mommy sempat mengajarkan kamu untuk berlari tapi tetap hati-hati, naik tangga dengan berani, melempar, menendang, berlompatan, beragam aktivitas motorik kasar, menyusun puzzle meski tidak rapi, merangkai manik menggunakan temali, menggunakan tangan untuk makan sendiri juga memakai dan melepas baju serta sepatu, manyusun balok serta sejuta lain kemampuan motorik halus.
Tidak juga sampai mommy mampu menahan diri menegur kamu yang memainkan mainan dengan tidak semestinya setelah kamu bosan memainkannya dengan cara yang tertulis pada buku petunjuk. Karena yang harusnya mommy pahami adalah kamu sedang melakukan eksplosari, belajar dengan bereksperimentasi atas objek atau sekedar meluaskan persepsi. Setidaknya sampai mommy melihat bahaya potensial yang mungkin timbul, itupun akan mommy lakukan dengan hati-hati sekali jangan sampai kekhawatiran mommy membekukan kreatifitas kamu.
Belajar huruf tidak lebih penting dari belajar tidur pada waktunya, juga belajar mandi sendiri, membuka baju, memakainya kembali meski akan memakan waktu sangat lama. Menggunakan ujung jari untuk memungut cemilan, memakai sendok atau garpu juga sumpit untuk makan atau menabuh drum.
Selain itu, yang juga harus lebih intensif, karena akan selalu terselip dalam setiap kegiatan kita adalah bagaimana bersikap manis, tidak memukul, melakukan hal dengan gembira, berfantasi dan konsistensi dalam melakukan kebiasaan baik seperti berdoa sebelum makan, mencuci tangan, mengucap salam, meminta maaf, membuang sampah dan berkasih sayang.
Belajar huruf bukan satu-satunya bagian untuk mempoles kemampuan berbahasa. Karena itu mommy lebih senang melakukannya dengan sebanyak munkin berbicara padamu, menjelaskan apa yang mommy lakukan juga menerangkan apapun yang kita temui, di rumah, di kebun, di jalan dimanapun. Dalam hal ini mommy pun harus banyak belajar juga untuk menanggapi kamu dengan bahasa yang baik, tidak harus disimplifikasi, jelas dan jujur. Ingatkan mommy juga untuk lebih fokus pada konteks ketika bercakap denganmu daripada terus-menerus mengkoreksi grammar atau pengucapan kamu. Juga ingatkan untuk tidak membiarkanmu menonton terlalu banyak tapi minta untuk membacakan buku lebih sering
Sebagai konsukuensinya mommy juga berjanji kalaupun nantinya ketika kamu mencapai tahap tertentu pemahaman huruf dan angka, mommy akan melihat pencapaian kamu tersebut sama istimewanya seperti pencapaian-pancapaian kamu yang lain. Sama hebatnya ketika kamu mau berbagi mainan atau ketika kamu mengelus sayang orang lain dan meluncur di perosotan.
Ketika orang-orang bertanya apa yang sudah kamu bisa, bukan kemampuan hapalan huruf atau angka yang akan pertama kali mommy sebutkan. Bukan mommy tidak bangga, tapi rasanya tak perlu terlalu dibanggakan.
Mommy tidak menjadikan pelajaran huruf dan angka sebagai prioritas utama juga karena berdasar keyakinan bahwa kamu mampu. Sangat mampu untuk menerima apalagi dengan eksposure yang segitu besarnya dari lingkungan atas materi ini. Jadi tak perlu ada beban tambahan dari mommy, karena diri kamu bisa mewadahi sejuta skill bahkan lebih, termasuk huruf dan angka.
Dear Shinta,
first of all I’d like to say how happy I am to finally able to read your blog! it’s so refreshing! seems like I am talking to you again…
Us, as grown ups
Tulisanmu di atas itu bagus sekali, Shinta, dan saya sangat memahami itu. Itu cara yang paling bijaksana untuk mendidik seorang anak memahami kehidupan dan hidup dengan pemahaman. Ketika anak-anak dijejali oleh kurikulum kognitif dan kuantitatif sedari kecil, seringkali pendidikan kita lupa untuk mengajari mereka ‘paham’ dan ‘melihat konteks’, serta berempati secara sosial dan bertanggung jawab atas tindakan mereka.
Apa yang Shinta didik ke Sora sangat baik.
It reminds me on our similarities and yet our differences as well. Kalau saya modelnya random, tapi saya mencoba menekankan pada aspek kreativitas dan pemahaman pikiran Najmi. Di satu sisi saya berbicara dan berdialog dengan Najmi dengan gaya saya apa adanya, seperti seorang Ibu dan teman sekaligus. Meski kadang saya jelas memberi instruksi. Tapi di satu sisi saya juga mencoba menekan sejauh mana saya pelan-pelan bisa membuatnya mengeksplor nalar kognitifnya. Saya ajari dia baca, tulis, hitung.
Saya belikan dia buku matematika kelas I dan buku membaca dan saya ajari dia membaca dan menulis. Di satu sisi saya ajari dia etika dan membiarkan dia bermain. Saya mungkin tidak sebijaksanamu, Shinta, dan saya yakin itu, karena saya mengambil jalur yang sedikit sistemik dan random sekaligus. Saya pikir pendidikan soal hal-hal normatif dan social skill adalah tugas seumur hidup, dan saat ini saya hendak memberi porsi yang cukup besar juga untuk kemampuan kognitif Najmi karena balita adalah masa emas untuk ekspansi otaknya
Begitu aja share dari saya.
Above all, glad to read another writings from you, Dear.
Keep in touch
rizkiaffiat
Tuesday, May 4, 2010 at 3:00 pm
Tanggung jawab seorang bunda memang tidak ada duanya ya..
membentuk moral generasi bangsa
Salut untuk Shinta.. ^_^
Semoga Sora menjadi anak yang sholihah, peka terhadap sesama dan lingkungannya.
Nurul
Wednesday, May 5, 2010 at 4:39 pm