Jalan Setapak

some pieces of my footprint, since the search of the puzzles continue. enjoy…

A year living Singapore

leave a comment »

Esok akan tepat satu tahun kami menyebut flat di lantai delapan Bedok South Singapore sebagai rumah. Tempat kami membangun hari-hari, belajar menjadi bagian dari satu kelompok yang disebut keluarga. Meski kepindahan kami ke negara ini diawali dengan segala ketidaksiapan dan kurang bekal, tapi hari ini kami bisa berkata lantang menyebut bahwa disinilah rumah kami.

Kami tinggal di Singapura berkaitan dengan pekerjaan suami di salah satu perusahaan otomotif Jerman yang bercokol disini. Sebelumnya hampir satu tahun saya dan suami tinggal di Jinju, Korea Selatan. Saya bekerja, suami kuliah. Kemudian saya pulang ke Jakarta, melahirkan Sora dan setelah ia cukup umur dan kami punya cukup keberanian, saya menyusul suami yang sudah lebih dulu datang ke Singapura.

Untuk pertama kalinya sejak memiliki bayi Sora kami tinggal terpisah dari orang tua. Saya ingat itulah titik ketika saya merasa benar- benar menjadi orang dewasa, menjadi orang tua. Bayi kami benar-benar hanya akan memiliki kami untuk bergantung. Tak ada nenek yang menggantikan menimang kala saya kelelahan menyusui. Tak ada kakung yang membelikan stok bebuahan untuk sumber vitamin asi Sora. Tak ada om yang menciptakan ekspresi lucu saat Sora tak menggubris usaha saya menghiburnya. Hanya ada mommy dan abahnya.

Untungnya, disini kami segera punya teman-teman yang mendukung, yang selalu ada seperti keluarga. Orang-orang baru yang datang, temannya teman, teman lama yang ternyata juga terdampar disini, familiar strangers yang beberapa sudah tidak lagi asing. Bahkan suara tetangga dan aktivitasnya terdengar bukan lagi sekedar bebunyian, melainkan musik yang menenangkan. Pasar dan taman bermain sudah dijelajahi sampai saya yakin (dengan dilebih-lebihkan) bisa menemukannya dengan mata tertutup.

Pelosok negara ini yang sudah kami jajahi, membawa saya semakin mengenal lingkungan kami. Beragam orang, beragam ras  Saya dan keluarga begitu menikmati kenyamanan dan keamanan yang dijanjikan disini. Kesenangan sederhana, seperti berjalana-jalan di sore hari atau sekedar duduk-duduk di taman  dekat rumah bisa menjadi oase yang menyegarkan buat kami.

Bukan hanya hal-hal menyenangkan dan nyaman tentu saja yang kami temui disini. Seperti kebanyakan tempat, banyak juga hal yang membuat saya mempertimbangkan hengkang. Sistem pendidikannya misal, dengan segala tuntutan yang bisa membuat siswa melompat bunuh diri, membuat saya ingin pindah ke Finlandia. Jaminan kesehatannya, yang tidak bisa digunakan untuk menjaga kesehatan, karena tidak bisa dipakai membiayai rawat jalan, membuat saya ingin kembali ke Korea Selatan. Huff bukan perbandingan setara mungkin kursi-kursi nyaman di taman dengan kesehatan dan pendidikan.

Setidaknya keluarga kami bersama-sama, karena itu sekali lagi saat ini Singapura-lah rumah kami

Advertisement

Written by shintaanita

Sunday, February 14, 2010 at 9:31 pm

Posted in Thought

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.