sate padang, siomay ayam, dimsum udang, nasi uduk, pecel ayam, bubur candil, lontong sayur, bakpia pathok, serabi hijau, es dawet, bajigur, ketan rebus kelapa muda, rujak, es dung-dung, oseng kentang teri, sayur ikan cucut pweedes, gado-gado, pepes tahu, peyek udang rebon, tempe penyet sambal mentah, lupis ketan, tahu isi, martahu, empek-empek, kerang ijo rebus saus nanas, cumi goreng tepung kobe, tape ketan, tape singkong, oseng ati ampela, sayur bayam, oseng tahu daun melinjo, ayam goreng tepung kobe, tongseng kambing, tahu gejrot, rujak uleg, rujak bebek, sate kambing, pisang molen, pisang kipas,  kue cubit,  martabak telor,  gule kambing, whaaaa menggilaaaaa….

Ia : “Sayang, gak ada ya tas perempuan yang compact? (sambil mengubek-ubek tas bahu saya mencari kunci)

Saya : maksudnya?

Ia : “Iya, yang bentuknya gak berubah-ubah, gak melenyok sana-sini, ada tempat YANG TETAP untuk semua benda, jadi gampang dicari, dan bisa dibuka lebar-lebar, jadi keliatan semua isinya.

Saya : mungkin ada…, tapi pasti bentuknya gak bagus, dan gak laku juga kyknya.

Ia : kenapa?

Saya : karena kami gak perlu semua fitur itu.

Ia : hhh… (menghela nafas putus asa)

*********

Ia : “Handuk kecilku mana ya? Tadi perasaan digantung disini?” (sambil celingukan)

Saya : “Handuk yang mana?”

Ia : “Yang kembang-kembang hijau”

Saya : “Itu digantung di depan muka kamu, persis.”

Ia : “Oh iya, hehe…. What?! Kalau handuknya gak dibalik gini dan kembang-kembangnya keliatan pasti gak nanya deh aku.”

*********

Saya : “Aduh, aku pake baju apa ya…”

Ia : “Terserah kamu, apa aja bagus kok”

(setelah saya rapi)

Ia : “Kamu kenapa nanya begitu terus ya kalau mau pergi?”

Saya : “Coz I need to.”

Ia : “Padahal kamu udah tau mau pake yang mana kan?”

Saya : “Iya.”

Ia : “Jadi jawabanku tadi bener?”

Saya : “Aku gak melanjutkan percakapan kan?”

Ia : “Hmm…” (tersenyum lega)

*********

Ia : “Aku nanti mau beli motor Harley ya…”

Saya : “Iya…”

Ia : “Nanti aku boleh touring sama temen-temen ya…”

Saya : “Iya…”

Ia : “Pake baju kulit sama iket kepala juga ya…”

Saya : “Iya…, btw kamu suka banget ya film Wild Hogs semalem”

Ia : “Iya…” (tersenyum malu-malu)

* Wild Hogs itu film yang dibintangi John Travolta tentang sekelompok pria paruh baya yang melakukan perjalanan naik motor Harley mereka keliling Amerika.

*********

Saat saya bersiap berangkat ke kantor, setelah menyetrika kembali jilbab saya karena sedikit kusut.

Ia : “Kenapa ‘gak pake bergo aja?”

Saya : “Kurang formal kalau untuk ke kantor.”

Ia : “Memang gak ada bergo yang seformal jilbab biasa?”

Saya : “Hmm, ada sii, tapi masih kurang.”

Ia : “Nanti kalau ada yang bisa sama formal, pake bergo aja ya…”

Saya : “Enggak.”

Will you please remind me when my wings forget how to fly?

Surga dengan jendela besar melengkung panjang yang memenuhi hampir setengah bagian dari seluruh dinding ruangan. Jendela dengan pemandangan luas dari lantai empat. Pemandangan luas yang indah, yang memuat gedung tinggi, stadion dengan lintasan lari berwarna merah, rel kereta, jalan tol, menara kampus, pedagang kaki lima, bukit bambu istimewa karena semua bambunya tumbuh tunggal tidak dalam rumpun, juga petak kebun sayur, cerobong pabrik, neon warna-warni beragam bentuk, dan di sisi timur tergaris sungai kecil yang dilintasi jembatan aspal dan diiringi jalan setapak berujung danau buatan.

Pemandangan di jendela besar di surgaku juga masih berbaik hati menyisakan tempat untuk segurat langit dengan banyak awan putih yang berubah gelap menjelang hujan, yang kadang dilintasi kawanan burung putih bersayap lebar, matahari terang yang hangat dan sepoi angin. Di malam hari, pemandangan di jendela besar akan dipenuhi pijar lampu kota, bintang yang berpendar silau dan disisipi bulan jingga bergurat abu-abu. Indah sekali.

Kadang, selama seharian jendela besar dirayapi rintik hujan. Namun selalu hanya rintik, karena tidak pernah hujan lebat di surga ini. Meski seharian dipenuhi warna abu-abu merajuk, aku tetap merasa ramai, karena butir hujan selalu mampir mengetuk. Bahkan kerap bermain musik, memukul perkusi kaca jendela dan beton atap, juga payung warna-warni yang hilir mudik di bawah sana. Mereka juga bermain berkejaran meninggalkan sisa bulir jejak di jendela besar.

Oya, kuceritakan sesuatu. Di surga ini dari lantai empat tempatku tinggal, satu ruangan lengkap dengan dapur dan kamar mandi, kau bisa tahu jenis kereta yang melintas tanpa perlu melihatnya. Bagaimana? Bukan dengan mendengar suaranya, mereka sama semua. Tapi dari getaran yang ditimbulkan. Iya, kereta barang dengan muatan berat yang lewat akan diikuti gempa kecil yang sampai di kamar lantai empatku. Sedangkan kereta penumpang, tak pernah ditumpangi gempa. Menarik? Memang.

Dia sayang, surga yang kutinggali ini adalah surga musim panas yang sejuk dengan banyak bunga mawar berkelopak tumpuk tumbuh liar merambati pagar sisi jalan. Dengan pohon berdaun warna warni, hijau, merah, coklat. Juga berbagai bentuk, bulat, berurat jari, tajam serupa jarum, menggantung dan berayun. Berbau ringan, segar dan harum.

Di surga yang satu ini terdapat sebuah sungai besar dengan bantaran landai luas ditumbuhi rumput dan bebungaan. Disisipi jalan aspal untuk bersepeda, meluncur, berlari atau sekedar berjalan. Dilengkapi jalur bebatuan untuk melatih syaraf telapak kaki, alat senam, lapangan pasir, gazebo-gazebo berbangku kayu, dan sekawanan burung dara yang memenuhi satu bagian tanah lapang.

Ah tak ada habisnya… hampir ada yang kulupa. Yang terpenting. Tapi ini rahasia, harap dijaga. Hmm… kumohon jangan tertawa kalau kukatakan. Setuju?

Baik. Hmm… disini ada malaikat yang selalu menjagaku…

Kau tertawa? Aku tidak bohong! Benar! Di surga ini ada malaikat yang selalu disampingku.

Ia ada disini. Kau ingat? Aku pernah bercerita tentangnya sebelum ini. Malaikat tampan yang menggenggam telapakku ketika kami jalan-jalan di pagi, atau petang hari. Ia kini selalu memastikan selimut hangat membungkusku di malam hujan yang dingin. Tawanya kerap pecah berderai ketika kuceritakan lelucon dan kisahku, menampakan barisan gigi putihnya yang berkecap senang. Dan ada lagi, ia suka semua makanan yang kubuat untuknya… Ia akan melahap habis dengan berkali-kali bilang lezat. Kau tahu, kadang itu hanya untuk sepiring nasi dan telur dadar. Kau bisa percaya itu?

Hhh… aku sedang mencobanya…

Di masa saya mengambil mata kuliah, biasanya di pertemuan pertama selalu diawali dengan protokol perkenalan, termasuk cek nama di daftar hadir. Dan kejadian ini kerap menimpa saya:

Dosen : Salim Sulaiman (memanggil mahasiswa di daftar hadir)

Salim Sulaiman : Iya mas hadir

Dosen : Sinta Anita Sari

Saya : Hadir, hmm, Nama saya pake H ya mas… (mencoba memastikan)

Dosen : Sintah Anitah Sarih? (bernada ragu dengan sedikit menahan tawa)

seluruh kelas terkikik, namun masih menahan diri, karena belum saling kenal.

Saya : Gak mas, Shinta-nya saja yang pake H (dengan muka ‘haha, u think you’re so funny‘)

Dosen : Oo, Sintah Anita Sari… (mengangguk angguk seakan bilang ‘hmm, make sense…’)

seluruh kelas terbahak, gak peduli meski belum saling kenal.

Saya : (mulai geram) H-nya sesudah S mas. S.H.I.N.T.A
Dosen : Oo gitu… iya iya… baik, Shinta pake H.

Saya : Urrrggggghhh…

sampai akhir semester saya pun dikenal sebagai Shinta pake H. Kemudian semester baru datang, mata kuliah baru dimulai dan here we go again…

Deret aritmetika ialah jumlah semua suku-suku barisan aritmetika. Deret aritmetika biasa juga disebut dengan deret hitung.

Bentuk umum deret aritmetika :
a + (a + b) + (a + 2b) + …+ (a + (n-1) b)

Jika a menyatakan suku awal, b menyatakan beda,Un menyatakan suku ke-n, n menyatakan banyak suku, Sn menyatakan jumlah n suku pertama dan Ut menyatakan suku tengah, maka berlaku :
1. Un = a + (n – 1) b
2.Sn = n/2(a + Un) atau Sn = n/2 (2a + (n – 1) b)
3.b = Un – Un – 1
4.Un = Sn – Sn – 1
5.Untuk n ganjil maka: Ut = (a + Un)/2

*Ini janji saya untuk seorang teman… hayo buat contoh soal dan penyelesaiannya!!

 

Luca Farabi
Jari-jari dengan pena digenggaman itu masih menggantung, menanti ide dituangkan dalam kertas kuning gading yang masih polos. Tapi otaknya menolak, hatinya tersumbat, ia tak mampu menyatakan esensi. Meski ruang kalbu penuh sesak dengan pemikiran, kesimpulan, perasaan dan pengamatan yang selalu ingin ia keluarkan. Ia merasa buntu bahkan hanya untuk menulis tentang dirinya, catatan tentang hidupnya. Bahkan memikirkan hal ini saja membuatnya mual, kepalanya tiba-tiba sakit dan bercak-bercak hitam mulai merusak pandangan.

Luca menarik nafas, menghempaskan pena ke atas meja, mengumpat marah dengan suara serak memecah sunyi, mendobrak benteng senyap. Ia menyerah, memutuskan untuk tidak menulis di buku harian malam ini. Di kejauhan, aktivitas malam tampak sibuk. Ribuan neon menggantikan terangnya siang. Gedung-gedung yang menjulang membiaskan imajinasinya akan kehidupan sederhana, kehidupan yang hangat dan bahagia, yang membebaskannya untuk tidur nyenyak di malam hari.

Luca tertarik mengamati malam, memandangi bintang dan menyaksikan pertunjukan lampu neon yang berkelap-kelip. Ia bangkit, menggeser pintu kaca dan melangkah ke beranda. Keremangan malam menyambut pandangan nanarnya akan keajaiban jagat. Ia merasa asing, aneh karena mulai diselimuti angin hangat yang berhembus di lantai sembilan belas gedung apartemen di pinggiran Manhattan tersebut.

Luca mengamati kerumunan orang di taman yang menghangatkan diri di sekitar api dalam tong. Ia membatin pastilah suhu di bawah sana sangat menusuk. Sempat merasa ganjil, tapi saat kepalanya mengadah ia takjub menyadari kehampaan sirna digantikan kerlip ribuan bintang yang mengamati dari balik langit, membalas senyum dan menghujaninya dengan temaram. Pandangannya dipenuhi hamparan padang jagat, menyuguhkan fenomena-fenomena nyata di dunia dengan analogi pendar bintang. Rasa mual dan sakit kepalanya mereda.

Kesendirian membuat Luca banyak merenung, dan lebih parah membuatnya begitu kesepian. Hidup di sebuah kota besar macam New York memang sulit. Kepadatan orang dan keramaian jalan hanya menguatkan rasa sepinya. Ia sudah tak punya keluarga untuk pulang, memang ia punya beberapa teman, tapi rasanya tak ada yang spesial, apalagi wanita. Ia selalu risih berada di sekitar mereka, ia menjadi dingin saat berbicara dengan seorang wanita. Meski kebanyakan dari mereka justru sangat antusias.

Luca Farabi memang selalu menarik banyak perhatian. Ia pemuda tampan dengan garis muka sempurna dan lipatan bibir lembut tanpa sedikitpun mengurangi ketegasan mimiknya. Bola mata abu-abu gelapnya masih mampu menusuk dalam meski bayangan gelap melingkar di bawah mata. Rambut hitam ikal membingkai sepetak wajah yang begitu adil, proporsional membagi wilayahnya untuk setiap bagian.

Untuk sedetik, angin dingin mengelus kuduknya. Luca merasakan sakit kepala dan mual kembali saat slide-slide liar sekali lagi mampir dalam tatapannya, menghadirkan luka, mimpi buruk dari masa lalu, mengikat semakin erat genggamannya pada pagar balkon apartemen. Ingatan yang selalu bisa mendobrak masuk, tanpa memberi kesempatan untuknya bersiap diri. Gambaran rumah yang dihancurkan buldozer yang dikawal prajurit-prajurit bersenjata lengkap membidik siap menarik pelatuk, sepupunya yang ditembaki saat melempari batu dan adik kecilnya yang diseret dipisahkan dari gendongan ibu yang menangis terus mengejar. Luca ingin melompat lalu mati. Hilang ditelan bumi.

Angkasa mengundangnya dengan ribuan binar terang. Ini tawaran yang menarik sekali. Angin hangat mengelus tubuh yang semakin condong menyesak pagar. Luca mulai melemaskan seluruh otot tubuhnya, mengendurkan genggaman lalu melepaskan. Membuat tubuhnya hanya ditopang pagar aluminium. Napasnya semakin cepat memaksa jantung bekerja keras. “Ini mudah,” bisiknya meyakinkan.Hanya beberapa detik untuk sampai di bawah sana, dan ia akan terbebas.

Damn!!” erangan Luca mengembalikan kesadarannya, menghindarkannya dari kegilaan yang hampir membunuhnya. Nafasnya memburu, terengah-engah seperti takut kehabisan oksigen. Mukanya memerah, panas menyudutkan amarah. Kepalanya tertunduk, tak punya keberanian menantang dunia, seperti yang selama ini ia lakukan. Ia hanya bisa lari, bersembunyi dibalik lindungan bayang malam.

Meski jiwanya selalu berontak. Ia ingin berjuang di tanah lapang, seperti saudara-saudaranya. Ia ingin syahid, meledakkan para jahanam yang mengobrak-abrik kehidupannya dan jutaan saudaranya. Ia ingin mululuhlantahkan musuh-musuhnya. Semua, tanpa harus disembunyikan, tanpa harus berpura-pura.

Astaghfirullah hal adzim! ya Allah kuatkan hati, raga, dan jiwaku…” erangnya menyayat, memuntahkan harapan mengembalikan rasionalitas.

Luca mulai berdzikir, tertunduk mengucap kalimat-kalimat suci dan perlahan mengangkat kepalanya menyesali kaalpaan, melepaskan genggaman dan masuk tanpa menoleh. Shalat tahajud menenangkan, mengembalikan kesegaran dan menyelimuti tubuh kuyunya dengan ketentraman, tapi ia tetap terjaga sepanjang malam.

August, 14th 2001

Sang Jiwa:
Bintang Biru

Sebuah Bintang jatuh di kaki Sang Jiwa, berwarna biru berpendar-pendar, terlihat waspada dengan kabut tipis menyelimuti. Menyembunyikan lima tantakelnya dari mulut-mulut yang ingin menyapa. Bintang angkuh, mangangkat dagunya, cerdas memandang lurus, menikmati dirinya sebagai pusat jagat raya. Menghisap semua perhatian, mengulumnya sendiri tanpa terlihat puas. Bintang yang egois tidak memantulkan kembali sinar yang disedotnya, membingkai keterpanaan dengan ranting-ranting jati yang kokoh. Mengabadikannya dalam formalin.

Sang Jiwa tersentak, menyadari kekosongan, mencoba mengalirkan rasionalitas ke gumpalan otak dan mulai menyusun bongkahan karang. Melindungi harga diri dari abrasi.

Bintang tenang. Mata mereka terikat dan meruntuhkan pilar-pilar arogansi Sang Jiwa, kedangkalannya dalam godaan khuldi. Sang Jiwa mulai menghayati keberadaan Bintang, membuka eksemplar perhatian melalui keenam inderanya. Intuisi menuntunnya memasuki dunia bintang.

Bergenggam cengkrama, bersenggama dengan harmoni, menghadirkan nuansa aneh yang diiringi pendangan iri jiwa-jiwa yang cemburu. Sang Jiwa muai terbang, mengikuti angan-angan, jejak-jejak biru yang ditorehkan Sang Bintang. Sang Jiwa memulai petualangan barunya.

Bintang menyajikan abstraksi baru sebuah ikatan, menggambarkan momentum glamour yang merampok mata dunia. Menempatkan Sang Jiwa sebagai materi agung disamping bintang yang anggun. Sang Jiwa terpesona, mulai terpenjara candu kekaguman, berubah utopis dan menkhayalkan cinta. Mengeramkan pendar biru Bintang dalam denyut nadinya yang mulai melanggar hukum semesta, alasan sikap irasional yang meledak-ledak.

Meski kemustahilan membentengi mimpi Sang Jiwa menggenggam Bintang. Bintang Biru yang sempurna. Meski kenyataan menciptakan jurang perbedaan, tertanam dalam, kuat mencengkeram bumi.

Sang Jiwa mencoba menyentuh Bintang.

Megumpulkan titik-titik keberanian, menggunakannya untuk menggunting temali yang menahan balon udara menjejak kenyataan. Sang Jiwa mengulurkan telapaknya, memasuki zona pendar biru, mulai menggigil merasakan hawa beku Bintang Biru.

Saat momentum sentuhan mulai terasa asing, pahit, dan liar, menciptakan akumulasi unsur-unsur ganjil.

Bintang pecah.

Menghempaskan telapak hangat Sang Jiwa yang mulai membeku, tertutupi kristal-kristal bening pecahan Bintang Biru. Sisa-sisa butir Bintang menanggalkan pendar biru yang suram nyaris hitam, membentuk lintasan kurva kebiruan berujung Bintang yang berpaling total.

 

Sang Jiwa terluka mendapati serpihan-serpihan Bintang menyayat telapaknya, mengalirkan tetes-tetes merah terang menggantikan kebekuan pendar biru.

Sang Jiwa marah, berbalik lari membentuk jejak-jejak merah tegas meneruskan pankal kurva kebiruan.

Maha Kevakuman mengambil alih

Menjaga jejak Bintang dan Sang Jiwa

Meyakinkan angkasa akan keabadian mereka

Mengisi kosmos dan memadatinya dengan Cinta yang tersisa.


It’s been a while since the last time I watch and enjoy a football match. Maybe it was the Germany World Cup final, where Italy takes France 5-3 in penalty. The last match I saw (not watch, since I flashed the game only when I passed my living room to the bathroom) was FA Cup last Saturday, not very much attractive I found them to be. It kept me only 10 minutes to stay in front of the TV set, but I let it keep running though.

And this morning, I found myself experience once lost feeling. Feeling enjoying football. It was the Champion League Final, AC Milan vs. Liverpool held in Olympics Stadium, Athens. And I won’t tell you the score yet, that would ruin this story, so be patient, fixed your seat and continue reading. Where I was? Ah yes, the finale, I didn’t plan to watch actually. I didn’t even notice if my brother wasn’t keep bluffing that he would join his friends for stay awake to watch. It got my nerve since he’s not a night awake type at all, and he doesn’t like football either.

So there I was, with my dad and brother, who didn’t get his permission to leave the house (he could sneak out if he really want to, but I’ve told you he’s not a big fan at all), waiting for the show in RCTI (Indonesian private TV station).

The show was started with a closer look to a Regency in North Sulawesi named Tomohon. They’re promoting their city as Flower City. Invited all RCTI Champions Final crews to their city and held a live show with their Mayor as commentator. It is a beautiful city actually, with Mountain View and young handsome Mayor. Maybe with a banner write “Welcome 2 2mohon” in the entrance road and young handsome Mayor Welcome you handed flowers. (I think they really should consider these ideas)

Anyway, one important factor I considered before I continue watching a football game is the stadium where the game is taken. It should be enormous, with wide space between the field borders to the spectators’ seat.

I think that’s why I don’t really like English Premiere League; they made the best use every inch of the stadium to load more spectator. Besides, I have incapability to distinguish Englishmen. They all look the same for me: tall, white, blonde, same old accent. If I forced myself to watch their game and when the pulse beat moment comes, this always happens: “Yes!!, go Giggs!!, er… Owen?, nope? Scholes!!, Is it Gerrard? It must be Beckam, Ughh!!! Whoever!! GOALL!!”

Back to the Champ Finale, before the game began, I take AC Milan as winner, since I knew some of the players, I used to watch Serie A Italia, and put respect to Carlo Ancelotti, Milan coach. Also because most of them have beautiful eyes, stylish hair, and tanner skin and last but not least they have the Greatest Captain, Paolo Maldini (Ay yay!! Captain!!).

But after 10 minutes, Liverpool played aggressively and dominated the game with Steven Gerrard and Jermaine Pennant played wonderfully. I started to consider my side. Well, Liverpool not bad at all, they’re wearing red, very catchy, and suit very well to their skin and hair color.

But still, Maldini manage to keep me stay on his side. Even when Pippo Inzaghi disappointed me with his special ‘ngetem‘ skill (read: offside) and got caught few times. My crossed fingers finally prove its merit, one minute before the referee blow first half whistle, a free kick by Andrea Pirlo (The one who get hair do before the game and manage to keep it during the game; if you’re wondering) broke Liverpool defense. And it’s surprised me more when I realized that Inzaghi’s shoulder is the one which changed the ball direction and failed the Spanish goal keeper to catch it. 1-0 for Milan and the first half ended. So was my brother participation.

Talk about goal keeper, I think one who can be a really great goal keeper is Elastic Girl from The Incredibles. She can stretch very effective and incredibly cool.

elastic-girl.jpg

In the second half, the game grew better. Milanisti started to sang their song, some skills performed by the best, such Kaka’ young player from Brazil. I wonder why he put apostrophe in his name, maybe in Brazil it’s mean that you’re cool. But in Indonesia I guess it means that you’re just lazy to write ‘k’.

Well, second half really enjoyable, I paid attention on some Italian whose hair started to wretched, but not Pirlo of course, his hair was just fine, swing beautifully as if he just out of beauty salon. And don’t ask me what hair treatment gel he used.

Oo!, I should tell you the second goal. It was shocking, since Inzaghi used his ‘ngetem‘ skilled, escaped the offside trap and made sharp goal. Cool Pippo! 2-0 for Milan and Milanisti sang louder and louder.

The game is giving me more fun. And for the sake of this story, I have to let you know the final score now. It was 2-1 for AC Milan. Yes Liverpool tried to chased Milan, and the game got more exiting, but I still believed that Milan can’t be defeated. Not with victory song sang louder and louder. Even with an Englishman scored with his head. Not trade his head with score ya… and again this happen: “Goall?!, Giggs!, er… Owen?, nope? Scholes!!, Is it Gerrard? It must be Beckam, Ughh!!! Whoever!! GOALL!!”

Watch their hair! See?, I’ve told you…

Look at the hair!, See! I’ve told you…

 

Saya yakin kamu masih ingat percakapan filosofis pertama kita, yang akhirnya mencetuskan sebuah teori tentang hidup di luar kotak, yang akhirnya membuat sadar bahwa kita sama-sama mendengar bunyi aneh di kepala.

Seperti saya juga ingat novel yang kita buat bersama selama setahun, berbagi kalimat dalam kisah khayalan yang berawal dari kepedulian.

Edisi majalah terbaru yang kita tunggu, karena tahu isinya akan membakar kembali semangat keislaman kita.

Saya tidak akan pernah lupa kagumnya saya mengetahui sisi lain diri kamu, seorang gadis cerdas dengan pengetahuan luar biasa luas dan selera musik yang fantastik.

Pelajaran tentang menjadi diri sendiri yang selalu kamu contohkan tanpa pernah berteori dan menggurui.

Saya selalu ingat senyum lebar dan tatapan mata bahagia kamu saat pertama kali kamu melihat saya berhijab. Ucapan selamat datang yang tulus, pelukan hangat dan doa yang tak pernah putus.

Menggenggam tangan saya di pernikahan saya, bahkan saat kamu tidak bisa datang.

Juga ketika kamu mengajari saya menggunakan internet dan menemukan hal luar biasa di luar sana.

Saat bercanda tentang kelakuan aneh, selera berpakaian unik dan ekspresi muka konyol yang sering kita mainkan.

Diskusi hebat tentang Darwin, metafisika, asal usul semesta, materialisme, pemikiran Harun Yahya, Yusuf Qardhawi, Al-Banna, feminisme, Islam, juga tentang bintang, tentang cuaca hangat, Natalie Portman, model celana pipa terbaru keluaran Channel, musik favorit, Oasis, cowok keren di sekolah, film terbaru di bioskop, artikel Kosmopolitan dan segalanya.

Saya ingat dan menyimpan novel yang kamu tulis, baik yang edisi asli, revisi satu, revisi dua, tiga, empat, sampai beberapa belas, juga yang revisi final, dan saya masih menikmati menjadi editor nomor satu kamu.

Makan siang di bawah pohon di taman luas dengan bekal telur ceplok dan nugget dengan obrolan ringan yang sejuta kali lebih menyenangkan dari jamuan banquet paling mewah sekalipun.

Saya ingat sekali kebiasaan makan kamu yang belepotan dan bagaimana kamu menyisakan makanan untuk dimakan lagi nanti.

Saya selalu ingat kelas “Bagaimana Merasa Nyaman dengan Isi Kepala” yang kamu buka selama saya mengenal kamu, dan itu adalah salah satu kelas favorit saya sepanjang masa.

Saya banyak sekali ingat hal-hal lain…

Next Page »